Mars Muktamar 1 Abad Muhammadiyah

Mars Muktamar 1 Abad Muhammadiyah

Lagu : Dwiki Darmawan
Syair : Din Syamsudin

Seabad gerak waktu
Sang Surya bersinar selalu
Dalam berkat rahmatMu
Cerahi peradaban mutu

Jutaan insan bersatu
Ribuan amal berpadu
Dalam lingkar syahadat
Bawa islam penuh rahmat
Ke Jogja kita kembali
Abad kedua kita mulai
Tekad membaja di hati
Walau jalan mendaki

Ayo bergandengan tangan
Hadapi segala tantangan
Gerakan lasykar zaman
Jayalah masa depan

Muhammadiyah satu abad
Saat kita bergembira
Atas segala nikmat
Cabang ranting semua bersua

Yogyakarta, 3-8 Juli 2010

Advertisements

Bahan Kimia yang Berbahaya Ketika Tumpah ataupun Mengalami Kebocoran

Suatu bahan kimia yang tumpah ataupun mengalami kebocoran dapat dikatakan berbahaya apabila bahan kimia tersebut berdampak buruk bagi kesehatan manusia ketika terjadi kontak fisik  secara langsung baik terkena kulit, maupun terhirup secara langsung.  Selain itu tumpahan atau kebocoran bahan kimia tersebut juga dapat mengganggu dan merusak lingkungan. Tumpahan bahan kimia dapat berbentuk cairan, padat seperti pelletm gas dan uap. Mereka juga bersifat mudah terbakar (cepat terbakar atau meledak), korosi (kerusakan pada manusia atau material lain) atau beracun ( beracun pada manusia dan mahluk hidup lainnya). Adapun bahan-bahan kimia yang berbahaya tersebut antara lain :

  1. Asam Sulfat, H2SO4

Tumpahan asam  dapat merusak kulit atau pakaian dan lantai.

  1. Asam klorida, HCl

Tumpahan dan kebocoran asam klorida dapat mengganggu sistem pernafasan.

  1. Asam Perklorat

Tumpahan asam perklorat akan menyebabkan kebakaran apabila dilap dengan kain atau bahan selusosa

  1. Hidrogen peroksida, H2O2

Tumpahan H2O2 apabila bereaksi dengan senyawa yang mudah terbakar, akan menyebabkan kebakaran

  1. Asam Sianida, HCN

Kebocoran dari Asam Sianida dapat menyababkan kebakaran, apabila berdekatan dengan sumber api.

  1. Benzena, C6H6

Tumpahan dari Benzena yang cukup banyak dapat menyebabkan kebakaran

  1. Toluena, C6H5CH3

Kebocoran besar dari toluena dapat menyebabkan kebakaran karena ledakan yang besar.  ( Pambudi, 2011)

Penyebab Terjadinya Tumpahan dan Kebocoran

Penyebab terjadinya tumpahan dan kebocoran itu sendiri dapat dikarenakan faktor :

  1. Intern, yaitu faktor yang disebabkan dari kesalahan pekerja laboratorium itu sendiri, yang dapat berupa :
  • Kecerobohan
  • Ketidaksengajaan
  • Kurangnya pemahaman bekerja di laboratorium
  1. Ekstern, yaitu faktor yang disebabkan dari luar, yang dapat berupa alat-alat laboratorium yang tidak berfungsi dengan baik

 Penanganan Tumpahan dan Kebocoran Bahan Kimia

Penanganan yang sangat tepat dalam tumpahan dan kebocoran adalah dengan mengikuti data/ petunjuk penanganan bahan dalam “Material Safety Data Sheet” (MSDS). Penanganan tumpahan dapat dilakukan secara umum maupun khusus.

Prosedur penanganan tumpahan secara umum adalah :

  1. Mengenali tumpahan/identifikasi bahan yang tumpah dan mengetahui teknik aman penanganannya.
  2. Memastikan penggunaan alat pengaman diri (khususnya sarung tangan, pelindung mata/muka dan pelindung pernafasan bila perlu).
  3. Mencegah tumpahan meluas dan hentikan sumber tumpahan jika hal tersebut aman dilakukan.
  4. Menangani (di tempat) dengan cara yang tepat.

Secara umum proses yang dilakukan adalah netralisasi. Netralisasi dapat menggunakan basa (soda ash/lime) untuk tumpahan yang bersifat asam dan larutan asam asetat untuk tumpahan yang bersifat basa. Bahan yang paling umum digunakan untuk keadaan darurat apabila terjadi tumpahan adalah pasir, tanah, natrium karbonat dan kapur. Tetapi untuk penanganan yang lebih tepat dapat dilihat di dalam “Material Safety Data Sheet” (MSDS).

Bekas tumpahan bahan kimia di area kerja dapat dibersihkan dengan air, sabun/detergen, atau pembersih lain yang sesuai dengan bahan pengotornya.

  1. Simpan semua limbah pada tempatnya yang sesuai kemudian tutup untuk penanganan lebih lanjut
  2. Bersihkan pastikan kembali area tersebut telah bersih dan aman.

Secara khusus penanganan tumpahan bahan kimia berdasarkan jenisnya adalah sebagai berikut :

  1. Prosedur Penanganan tumpahan Padatan :
  • Jangan panik
  • Memakai Alat Pelindung Diri yang sesuai MSDS
  • Mengisolasi daerah tumpahan
  • Memberi peringatan “Awas, ada tumpahan bahan kimia”
  • Memberi “tali pembatas” agar tidak ada yang melintas
  • Menutup tumpahan dengan penjerap jenis matras atau disedot dengan vakum khusus, jika perlu dilakukan penetralan
  • Memperlakukan buangan tumpahan seperti tumpahan B3, jangan dibuang langsung ke lingkungan

     2. Prosedur Penanganan Tumpahan Cairan :

  • Hampir sama dengan prosedur penanganan tumpahan padatan
  • Menyerap tumpahan dengan bahan penyerap yang inert
  • Jika perlu,dilakukan netralisasi dan dicek derajat keasamannya pH dengan pH indikator
  • Memperlakukan buangan tumpahan seperti tumpahan B3 (Bahan Berbahaya Beracun)
  • Jangan dibuang langsung ke lingkungan

3. Tumpahan bahan kering dan padat :

  • Disapu dan disikat serta dimasukkan kedalam wadah yang sesuai

Contoh lain Penanganan Tumpahan dan Kebocoran Bahan Kimia adalah :

  1. Tumpahan larutan asam/basa:
  • Tumpahan disiram dengan air
  • Dinetralkan dengan soda atau NaHCO3
  • Disapu ke saluran drainase

2. Tumpahan bahan berminyak:

  • Dilap dan dibersihkan dengan deterjen

3. Tumpahan pelarut volatil:

  • Dilap pakai kain atau tisu dan dibuang di tempat yang sesusai

4. Prosedur Penanganan Tumpahan Merkuri :

  • Gunakan selalu APD sebelum bekerja
  • Tetesan merkuri dihisap menggunakan pipet
  • Isi pipet dituang ke dalam botol merkuri
  • Sisa merkuri ditaburi dengan reagent inert
  • Area yang sudah tertutup kemudian disemprot dengan reagent inert
  • Setelah waktu reaksi berlangsung selama 15 – 30 menit, absorben yang berisi merkuri diangkat dari permukaan dan diletakkan dalam tabung dengan menggunakan sekop kecil dan spatula
  • Bahan yang tersisa dapat dibersihkan dengan menggunakan penyeka
  • Zat buangan yang berisi merkuri merupakan limbah spesial yang harus dibuang berdasarkan peraturan yang berlaku
  • Setelah semua proses selesai, semua alat bantu dan material kerja disimpan secara aman dalam kaleng

Penanganan masing-masing bahan kimia :

Asam Sulfat, H2SO4

Jangan sentuh tumpahan asam karena dapat merusak kulit atau pakaian dan lantai. Netralkan tumpahan dengan larutan Soda atau kapur tohor, sebelum disiram dengan air. Beri ventilasi. Hati – hati terhadap tempat rendah (uap lebih berat dari pada udara). Pakai alat pelindung diri dalam menangani tumpahan asam.

Asam Klorida, HCl

Penanganan kebocoran gas atau tumpahan larutan HCl harus memakai alat pelindung diri, terutama pelindung pernafasan dan kulit. Uap dapat disemprot dengan air. Tumpahan yang tidak diambil dinetralkan dengan soda atau kapur tohor. Siram dengan air.

Asam Perklorat, HClO4

Setiap tumpahan asam perklorat di laboratorium segera harus diencerkan dengan air. Tumpahan asam tidak boleh di lap dengan kain atau bahan selulosa lain, karena akan terbakar. Lantai bekas tumpahan dapat disiram dengan air. Jangan menyentuh tumpahan asam

Hidrogen Peroksida, H2O2

Gunakan alat pelindung diri dalam menangani kebocoran/tumpahan, beri ventilasi di daerah kerja. Jangan sentuh cairan. Sedikit tumpahan dapat disiram dengan air. Tumpahan jumlah banyak dapat diserap dengan tanah atau pasir. Jauhkan material yang mudah terbakar.

Asam Florida, HF

Penanganannya dapat ditangani oleh personel  yang  memakai alat pelindung diri. Jangan menyentuh bahan yang tertumpah. Serap Tumpahan yang terjadi dengan tanah, pasir atau lainnya yang inert. Uap HF dapat dibersihkan dengan semprotan air.

Asam Nitrat, HNO3

Isolasi daerah kebocoran / tumpahan, beri ventilasi dan tanda larangan masuk. Pakai alat pelindung diri. Jauhkan bahan mudah terbakar. Gunakan air untuk menyemprot uap atau untuk pendingin. Sedikit tumpahan dapat diserap dengan tanah atau pasir (non combustible). Tumpahan yang banyak dapat dinetralkan dahulu dengan Ca(OH)2 atau NaHCO3 sebelum dibuang secara khusus.

Asam Sianida, HCN

Pembersihan dilakukan oleh personel yang dilengkapi  dengan alat perlindungan diri. Matikan sumber api. Jangan sentuh HCN. Hindarkan agar Sianida tidak masuk ruangan tertutup. Hentikan kebocoran bila mungkin. Kebocoran cairan dapat diserap dengan penyerap (tanah atau pasir). Bekas tumpahan dapat disiram dengan air

Benzena, C6H6

Gunakan  alat pelindung diri dalam menangani bahan tertumpah, beri ventilasi yang baik. Matikan atau singkirkan semua sumber penyalaan. Tumpahan jangan dibuang ke perairan, tutup tumpahan dengan pasir untuk kemudian dibakar. Bila tumpahan cukup banyak panggil pemadam kebakaran.

Toluena, C6H5CH3

Batasi daerah tumpahan. Pakai alat pelindung diri, matikan api atau sumber penyalaan. Beri ventilasi. Jangan dibuang ke sungai atau perairan. Tumpahan dapat diserap dengan pasir. Bila terjadi kebocoran besar, siapkan pasukan pemadam kebakaran.

Xilena, C6H4(CH3)2

Batasi daerah, beri ventilasi, pakailah pakaian pelindung. Ambil atau matikan semua sumber penyalaan. Cegah tumpahan mengalir ke dalam sungai. Tumpahan dapat diserap dengan pasir untuk kemudian dapat dibakar.

Fenol, C6H5OH

Batasi daerah kebocoran dan sediakan alat proteksi dan ventilasi. Singkirkan sumber panas atau api. Bahan tertumpah segera dikumpulkan dan diserap dengan pasir kering untuk dikuburkan secara aman. Cegah masuk ke dalam perairan, karena amat beracun.

Formaldehida, CH2O

Untuk membersihkannya, pekerja harus memakai alat pelindung diri. Beri ventilasi tempat kebocoran, dan singkirkan sumber – sumber pemanas atau penyalaan. Tumpahan dapat diserap dengan tanah dan pasir kering. Jangan menyentuh bahan. Uapnya  dapat disemprot dengan air.

Piridin, C5H5N

Batasi tumpahan, gunakan alat pelindung diri. Matikan nyala api atau pindahkan sumber pemanas. Jangan sentuh bahan dan cegah agar tidak terbuang ke dalam sungai.

Metanol, CH3OH

Pakailah alat pelindung diri terutama masker dan gloves. Matikan nyala api dan jauhkan sumber pemanas dan penyalaan. Jangan menyentuh metanol. Lakukan pengambilan bahan kembali (recovery), bila tidak mungkin tutup dengan pasir atau absorbent yang kemudian dapat dibakar.

Asetonitril, C2H3N

Gunakan alat pelindung diri seperti pakaian, gloves dan respirator yang tepat untuk menangani bahan tumpahan. Bahan tumpahan dapat diserap dengan kertas dan dibakar. Bekas tumpahan dapat dicuci dengan air sabun.

Dietil Eter, C4H10O

Bila ada eter tumpahan, segera matikan nyala api dan jauhkan sumber penyalaan. Siapkan pemadam kebakaran. Beri ventilasi, serap tumpahan ke dalam pasir.,  untuk kemudian dibakar di tempat aman. Hindari tumpahan masuk  ke dalam perairan atau sungai.

Heksana, C6H14

Hilangkan adanya sumber pemanas, karena uap dapat menuju titik nyala. Pakai alat pelindung diri seperti gloves, perisai muka dan respirator dengan kanister. Tumpahan dapat diserap pada kertas dan dibakar di tempat terbuka. Tumpahan jangan dibuang ke sungai.

Propil Alkohol, C3H8O

Bila terjadi tumpahan, batasi daerah tumpahan, berikan ventilasi dan jauhkan api atau panas dan percikan bunga api. Ambil tumpahan bila mungkin untuk recovery. Bila tidak, serap dengan pasir kemudian dibuang dengan aman. Bekas tumpahan dapat disiram dengan air.

Kloroform, CHCl3

Isolasi daerah kebocoran dan jauhkan orang – orang yang tidak berkepentingan. Beri ventilasi. Serap tumpahan dengan kertas penyerap dan biarkan menguap dalam lemari asam. Bakar kertas di tempat yang aman.

Karbon Tetraklorida, CCl4

Sedikit tumpahan dapat diserap dalam kertas penyerap dan uapkan dalam lemari asam. Kertas bekas dapat dibakar. Lantai bekas tumpahan dapat dicuci dengan air sabun.

Petroleum eter

Segera padamkan atau singkirkan sumber penyalaan atau api. Pakailah alat pelindung diri (goggles & gloves). Semprot dengan bahan pendispersi bila ada agar membentuk emulsi dan semprot dengan air banyak. Bila tak ada bahan pendispersi, serap bahan tumpahan dengan pasir, bawa ke tempat aman dan uapkan atau bakar.

Aseton, C3H6O

Pakailah alat pelindung diri dalam menangani tumpahan bahan, segera pindahkan atau padamkan nyala api. Tumpahan sedikit dapat diserap dalam kertas, uapkan dalam lemari asam. Bakarlah kertas penyerap. Bersihkan lantai dengan siraman air.

 1.Menghentikan kebocoran :

Harus segera dilakukan apabila aman dan tidak berbahaya. Beberapa teknik dapat dilakukan dengan reposisi wadah, menutup dengan semen epoksi atau bahan penutup lain.

2.Mewadahi Tumpahan (containment) :

Cara ini dimaksudkan untuk mengisolasi dan mencegah tumpahan agar tidak menyebar  ke area lebih luas. Kemungkinan pelaksanaan cara ini bergantung pada jenis bahan, jumlah dan lokasi kebocoran atau tumpahan. Tumpahan cairan yang mengeluarkan uap banyak adalah amat berbahaya. Imobilitas tumpahan dengan absorbent adalah cara yang baik untuk mengurangi risiko pencemaran bahan beracun.

3.Penanganan secara kimia dan fisika :

Kebocoran gas yang mudah larut dalam air seperti amonia dapat didispersikan ke dalam air. Tumpahan cairan dapat dinetralkan dengan asam. Sebaliknya kebocoran asam dapat dinetralkan dengan basa. Sedang tumpahan pelarut organik dapat diimobilisasi dengan adsoben inert. Monomer beracun dapat dipolimerisasikan dengan menambah katalist.

Bahan Penyerap Tumpahan :

Bahan Penyerap Organik

  • Serbuk gergaji (tidak direkomendasikan untuk zat pengoksidasi dan asam kuat)
  • Pasir kali (Murah, daya jerapnya rendah 10% berat tumpahan)
  • Butiran Arang kayu (kabon aktif) (Harus kering, tidak untuk zat pengoksidasi)

Bahan Penyerap Anorganik

  • Silikat

Bahan Penyerap Sintetik

  • Copolimer inert

Subjek yang  Berpotensi Terkena Bahaya Tumpahan dan Kebocoran Bahan Kimia

Beberapa subjek individu yang berisiko untuk terkena bahaya tumpahan dan kebocoran bahan kimia antara lain :

  1. Pengguna laboratorium
  2. Petugas laboratorium
  3. Pengunjung laboratorium
  4. Masyarakat sekitar laboratorium

Metode Kompleksiometri EDTA

Dalam analisis suatu zat kimia digunakan  berbagai  macam  metode. Salah  satu  metode  yang  di  pakai  untuk  penetapan  kadar  logam  adalah Kompleksometri dan Elektrogravimetri.  Metode  Kompleksiometri  didasarkan  atas  pembentukan  senyawa  komplek antara  logam  dengan  zat  pembentuk  komplek (Endang, T.M dan Yusrin,2009).  Etilen Diamin Tetra Asetat (EDTA) merupakan zat pembentuk kompleks yang dapat membentuk senyawa kompleks yang stabil dengan logam berat seperti Cu (tembaga) (Hutagalung, 1998). Kestabilan senyawa kompleks dipengaruhi oleh faktor ligan dan atom pusat. Ligan  EDTA  mempunyai  atom  donor  elektron  yaitu  O  pada gugus  OH  dan  N (gambar 1) yang dapat berikatan dengan atom pusat. Faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks berdasarkan pengaruh atom pusat antara lain besar dan muatan dari ion, nilai CFSE, dan faktor distribusi muatan (Sukardjo, 1992).

Gambar 1. Struktur EDTA

Kestabilan dari  senyawa  komplek  yang  terbentuk  tergantung  dari  sifat kation dan pH dari  larutan,  sehingga  titrasi harus dilakukan pada pH  tertentu. Untuk menetapkan  titik  akhir  titrasi  (TAT)  digunakan  indikator  logam,  yaitu indikator yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam. Ikatan kompleks  antara  indikator  dan  ion  logam  harus  lebih  lemah  daripada  ikatan kompleks atau larutan titer dan ion logam. Larutan indikator bebas mempunyai warna yang berbeda dengan larutan kompleks indikator. Indikator yang banyak digunakan  dalam  titrasi  kompleksometri  adalah  kalkon,  asam  kalkon karboksilat,  hitam  eriokrom-T, EBT dan  jingga  xilenol. Untuk  logam  yang  dengan cepat  dapat  membentuk  senyawa  kompleks  pada  umumnya  titrasi  dilakukan secara langsung, sedang yang lambat membentuk senyawa kompleks dilakukan titrasi  kembali (Farmakope Indonesia Edisi III, 1979).

Tembaga merupakan senyawa logam yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan EDTA. EDTA umumnya dipakai dalam bentuk garam dinatrium yang mudah larut dalam air. Titrasi dilakukan dalam suasana basa pH > 9 dengan indikator murexide atau EBT. Indikator EBT peka terhadap perubahan pH larutan titer sehingga perlu buffer untuk menjaga pH larutan (Mardiyono, 2009).

Elektrogravimetri adalah metode penentuan kadar ion atau unsur berdasarkan hasil penimbangan berat zat yang mengendap pada salah satu elektroda pada reaksi elektrolisis terhadap larutan cuplikan. Elektrogravimetri juga dapat didefinisikan sebagai metoda analisis kimia yang berdasarkan pengukuran jumlah listrik dengan mengukur berat endapan yang terjadi pada salah satu elektroda dimana bekerja berdasarkan oksidasi/reduksi. Elektrolisis analit dilakukan dalam periode tertentu untuk memastikan perubahan secara kuantitatif keadaan oksidasi baru analit dan menggunakan energi listrik karena reaksinya non-spontan (Mayun, 1998).

Sel elektrolisis terdiri atas sepasang elektroda yang dicelupkan dalam larutan maupun lelehan elektrolit yang ingin dielektrolisis. Elektroda berperan sebagai tempat berlangsungnya reaksi. Reaksi reduksi berlangsung di katoda (negatif), sedangkan reaksi oksidasi berlangsung di anoda (positif). Sehingga katoda menarik kation-kation yang akan tereduksi menjadi endapan logam. Sebaliknya, anoda yang bermuatan positif menarik anion-anion yang akan teroksidasi menjadi gas. Teknik ini dapat digunakan untuk logam seperti tembaga atau perak yang bersifat cukup mulia dimana konstitusi-konstitusi lainnya tak semudah H+ untuk direduksi (Khan M dan A Sarwar, 2001).

Untuk mengetahui perbedaan kandungan tembaga dengan berbagai metoda maka penelitian ini bertujuan untung mempelajari penentuan kandungan tembaga dalam larutan dengan metoda elektrogravimetri dan titrasi pengompleksan.

Referensi:

Endang, T.M dan Yusrin, 2009, Penggunaan Metode Kompleksometri Pada Penetepan Kadar Seng Sulfat Dalam Campuran Seng Sulfat Dengan Vitamin C. FIKKES UNIMUS.

Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Jakarta:  Depkes RI.

Hutagulung, H.P, 1998, Pencemaran Laut oleh Logam Berat, dalam P30 LIPI, Lembaga Oseanologi Nasional-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.

Khan M.  dan  A  Sarwar,  2001, Determination  of  Trace Amounts  of  Cooper  (II)  by Using  Catalytic  Redox Reaction Between Methylene Blue  and  Ascorbic  Acid, Anal. Sci.17:1995-1997

Mardiyono, 2009. Analisis Cu dan Pb pada beberapa Produk Sayur Kacang-kacangan dalam Kaleng  Secara Spektrofotometri  Serapan  Atom. Fakultas Farmasi Univ.  Setia Budi, Surakarta

Mayun, 1998, Penetapan Kadar Cu, Pb, dan Cr pada siput Murbei (Pomacea Canaliculata) di waduk Estuari Muara Sungai Badung, Skripsi Jurusan Kimia FMIPA, UNUD.

Sukardjo, 1992, Kimia Koordinasi, Rineka Cipta, Jakarta.

Sistem Manajemen Mutu | ISO 17025 | Prinsip Dasar Serta Penjabaran

PENDAHULUAN

Pasar bebas dunia menuntut informasi teknis dari produk yang diperdagangkan. Data hasil uji dari laboratorium yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun hukum akan menjadi salah satu hambatan teknis. Organisasi laboratorium perlu diarahkan dan dikendalikan secara sistematis dan transparan agar bisa berhasil. Keberhasilan dapat dicapai melalui pengimplementasian dan pemeliharaan sistem manajemen mutu yang didesain untuk selalu memperbaiki efektivitas dan efisiensi kinerjanya sambil mempertimbangkan kebutuhan semua pihak berkepentingan.

PERKEMBANGAN SISTEM ISO/IEC 17025

17025

PRINSIP DASAR MANAJEMEN MUTU

170251

PENJABARAN ISO 17025

1. Ruang Lingkup

Standar ISO 17025 menetapkan persyaratan umum kompetensi dalam melakukan pengujian dan/atau kalibrasi, termasuk pengambilan contoh. Hal ini mencakup pengujian dan kalibrasi dengan menggunakan metode yang baku, metode yang tidak baku, dan metode yang dikembangkan laboratorium.
Standar ISO 17025 dapat diterapkan pada :

1. Semua organisasi yang melakukan pengujian dan/atau kalibrasi. Hal ini mencakup misalnya, laboratorium pihak pertama, kedua, dan ketiga, dan laboratorium pengujian dan/atau kalibrasi yang merupakan bagian dari inspeksi dan sertifikasi produk.

2. Semua laboratorium tanpa mengindahkan jumlah personel atau luasnya lingkup kegiatan pengujian dan/atau kalibrasi.
Standar Internasional ISO 17025 digunakan oleh laboratorium untuk mengembangkan sistem manajemen untuk mutu, administratif dan kegiatan teknis. Customer laboratorium, regulator dan badan akreditasi dapat juga menggunakannya dalam melakukan konfirmasi atau mengakui kompetensi laboratorium. Standar internasional ini tidak ditujukan sebagai dasar untuk sertifikasi laboratorium. Bila laboratorium pengujian dan kalibrasi sesuai dengan persyaratan standar ini, mereka akan mengoperasikan sistem manajemen untuk kegiatan pengujian dan kalibrasi yang juga memenuhi prinsip-prinsip ISO 9001.

2. Acuan Normatif

Dokumen acuan berikut sangat diperlukan dalam mengaplikasikan dokumen ini. Untuk acuan dengan tahun penerbitan, hanya edisi yang dikutip yang berlaku. Untuk dokumen acuan tanpa tahun penerbitan, edisi terakhir dokumen acuan tersebut (termasuk amandemennya) berlaku:

  • ISO/IEC 17000, Conformity assessment ⎯ Vocabulary and general principles
  • VIM, International vocabulary of basic and general terms in metrology, issued by BIPM, IEC, IFCC, ISO, IUPAC, IUPAP and OIML

3. Istilah dan Definisi

Untuk keperluan dokumen ini berlaku istilah dan definisi yang digunakan dalam ISO/IEC 17000 dan VIM.

4. Persyaratan Manajemen

4.1    Organisasi

4.1.1 Laboratorium atau organisasi induknya harus merupakan suatu kesatuan yang secara legal dapat dipertanggungjawabkan.

4.1.2 Merupakan tanggung jawab laboratorium untuk melakukan pengujian dan kalibrasi sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan standar ini dan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan, pihak yang berwenang, atau organisasi yang memberikan pengakuan.

4.1.3 Sistem manajemen harus mencakup pekerjaan yang dilakukan dalam fasilitas laboratorium, di tempat di luar fasilitas laboratorium yang permanen atau dalam fasilitas laboratorium yang sementara atau bergerak.

4.1.4 Apabila laboratorium merupakan bagian dari suatu organisasi yang melakukan kegiatan selain pengujian dan/atau kalibrasi, tanggung jawab personel inti di dalam organisasi yang mempunyai keterlibatan atau pengaruh pada kegiatan pengujian dan/atau kalibrasi harus ditetapkan untuk mengidentifikasi pertentangan kepentingan yang potensial.

4.1.5 Laboratorium harus :

a) Mempunyai personel manajerial dan teknis yang, disamping tanggung jawabnya yang lain, memiliki kewenangan dan sumber daya yang cukup untuk melaksanakan tugasnya, termasuk implementasi, pemeliharaan dan peningkatan sistem manajemen, dan untuk mengidentifikasi kejadian penyimpangan dari sistem manajemen atau dari prosedur untuk melaksanakan pengujian dan/atau kalibrasi, dan untuk memulai tindakan untuk mencegah atau meminimalkan penyimpangan tersebut (lihat juga 5.2);

b) Memiliki pengaturan untuk menjamin bahwa manajemen dan personelnya bebas dari setiap pengaruh dan tekanan komersial, keuangan dan tekanan intern dan extern yang tidak diinginkan serta tekanan lainnya yang dapat berpengaruh buruk terhadap mutu kerja mereka

c) Memiliki kebijakan dan prosedur untuk memastikan adanya perlindungan atas kerahasiaan informasi dan hak kepemilikan customer, termasuk prosedur untuk melindungi penyimpanan dan penyampaian hasil secara elektronik

d) Memiliki kebijakan dan prosedur untuk menghindari keterlibatan dalam setiap kegiatan yang akan mengurangi kepercayaan pada kompetensinya, ketidakberfihakannya, integritas pertimbangan dan operasionalnya

e) Menetapkan stuktur organisasi dan manajemen laboratorium, kedudukannya di dalam organisasi induk, dan hubungan antara manajemen mutu, kegiatan teknis dan jasa penunjang

f) Menentukan tanggung jawab, wewenang dan hubungan antar semua personel yang mengelola, melaksanakan atau memverifikasi pekerjaan yang mempengaruhi mutu pengujian dan/atau kalibrasi;

g) Melakukan penyeliaan yang memadai pada staf pengujian dan kalibrasi, termasuk personel yang dilatih, oleh personel yang memahami metode dan prosedur, maksud dari tiap pengujian dan/atau kalibrasi, dan penilaian terhadap hasil pengujian atau kalibrasi

h) Memiliki manajemen teknis yang sepenuhnya bertanggung jawab atas pelaksanaan teknis dan ketersediaan sumber daya yang diperlukan untuk menjamin mutu yang dipersyaratkan dalam kegiatan laboratorium;

i) Menunjuk seorang staf sebagai manajer mutu (atau apapun namanya) yang, disamping tugas dan tanggung jawabnya yang lain, harus mempunyai tanggung jawab dan kewenangan tertentu untuk memastikan sistem manajemen yang terkait dengan mutu diterapkan dan diikuti setiap waktu; manajer mutu harus mempunyai akses langsung ke pemimpin tertinggi yang membuat keputusan terhadap kebijakan atau sumber daya laboratorium

j) Menunjuk deputi untuk personel inti manajemen

k) Menjamin bahwa personel menyadari relevansi dan pentingnya kegiatan mereka dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam pencapaian tujuan sistem manajemen

4.1.6 Manajemen puncak harus menjamin bahwa proses komunikasi yang tepat ditetapkan dalam laboratorium dan bahwa komunikasi memegang peranan dalam kaitannya dengan efektivitas sistem manajemen.

4.2  Sistem manajemen

4.2.1 Laboratorium harus menetapkan, menerapkan dan memelihara sistem manajemen yang sesuai dengan lingkup kegiatannya. Laboratorium harus mendokumentasikan kebijakan, sistem, program, prosedur, dan instruksi sejauh yang diperlukan untuk menjamin mutu hasil pengujian dan/atau kalibrasi. Dokumentasi dari sistem tersebut harus dikomunikasikan kepada, dimengerti oleh, tersedia bagi, dan diterapkan oleh semua personel yang terkait

4.2.2 Kebijakan sistem manajemen laboratorium terkait dengan mutu, termasuk pernyataan kebijakan mutu, harus dinyatakan dalam panduan mutu (apapun namanya). Keseluruhan sasaran mutu harus ditetapkan dan dikaji ulang dalam kaji ulang manajemen. Pernyataan kebijakan mutu harus diterbitkan dibawah kewenangan manajemen puncak. Harus mencakup paling sedikit hal berikut :

a) Komitmen manajemen laboratorium pada praktek profesional yang baik dan pada mutu pengujian dan kalibrasi dalam melayani customer

b) Pernyataan manajemen untuk standar pelayanan laboratorium

c) Tujuan sistem manajemen yang terkait dengan mutu

d) Persyaratan yang menyatakan bahwa semua personel yang terlibat dalam kegiatan pengujian dan kalibrasi di laboratorium harus memahami dokumentasi mutu dan menerapkan kebijakan serta prosedur di dalam pekerjaan mereka

e) Komitmen manajemen laboratorium untuk bersesuaian dengan standar ini, dan secara berkelanjutan meningkatkan efektivitas sistem manajemen

4.2.3 Manajemen puncak harus memberikan bukti komitmen tentang pengembangan dan implementasi sistem manajemen dan meningkatkan efektivitasnya secara berkelanjutan

4.2.4 Manajemen puncak harus mengomunikasikan kepada organisasi mengenai pentingnya memenuhi persyaratan customer, demikian juga persyaratan perundangundangan dan peraturan lainnya

4.2.5 Panduan mutu harus mencakup atau menjadi acuan untuk prosedur pendukung termasuk juga prosedur teknisnya. Hal ini harus menggambarkan struktur dokumentasi yang digunakan dalam sistem manajemen

4.2.6 Peranan dan tanggung jawab manajemen teknis dan manajer mutu, termasuk tanggung jawab mereka untuk memastikan kesesuaian dengan Standar ini harus ditetapkan dalam panduan mutu

4.2.7 Manajemen puncak harus menjamin bahwa integritas sistem manajemen dipelihara pada saat perubahan terhadap sistem manajemen direncanakan dan diimplementasikan

4.3  Pengendalian dokumen

4.3.1 Umum

Laboratorium harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengendalikan semua dokumen yang merupakan bagian dari sistem manajemen (dibuat secara internal atau dari sumber eksternal), seperti peraturan, standar, atau dokumen normatif lain, metode pengujian dan/atau kalibrasi, demikian juga gambar, perangkat lunak, spesifikasi, instruksi dan panduan

4.3.2 Pengesahan dan penertiban dokumen

4.3.2.1 Semua dokumen yang diterbitkan untuk personel di laboratorium yang merupakan bagian dari sistem manajemen harus dikaji ulang dan disahkan oleh personel yang berwenang sebelum diterbitkan. Daftar induk atau prosedur pengendalian dokumen yang setara, yang menunjukkan status revisi yang terakhir dan distribusi dokumen dalam sistem manajemen, harus dibuat dan mudah didapat untuk menghindarkan penggunaan dokumen yang tidak sah dan/atau kadaluwarsa

4.3.2.2 Prosedur yang diberlakukan harus menjamin bahwa:

a) Edisi resmi dari dokumen yang sesuai tersedia di semua lokasi tempat dilakukan kegiatan yang penting bagi efektifitas fungsi laboratorium

b) Dokumen dikaji ulang secara berkala, dan bila perlu, direvisi untuk memastikan kesinambungan kesesuaian dan kecukupannya terhadap persyaratan yang diterapkan

c) Dokumen yang tidak sah atau kadaluwarsa ditarik dari semua tempat penerbitan atau penggunaan, atau dengan cara lain yang menjamin tidak digunakannya dokumen tersebut

d) Dokumen kadaluwarsa yang disimpan untuk keperluan legal atau untuk maksud suaka pengetahuan diberi tanda sesuai

4.3.2.3 Dokumen sistem manajemen yang dibuat oleh laboratorium harus diidentifikasi secara khusus. Identifikasi tersebut harus mencakup tanggal penerbitan dan/atau identifikasi revisi, penomoran halaman, jumlah keseluruhan halaman atau tanda yang menunjukkan akhir dokumen, dan pihak berwenang yang menerbitkan

4.3.3 Perubahan dokumen

4.3.3.1 Perubahan terhadap dokumen harus dikaji ulang dan disahkan oleh fungsi yang sama dengan yang melakukan kaji ulang sebelumnya kecuali bila ditetapkan lain. Personel yang ditunjuk harus memiliki akses pada informasi latar-belakang terkait yang mendasari kaji ulang dan pengesahannya

4.3.3.2 Apabila memungkinkan, teks yang telah diubah atau yang baru harus diidentifikasi di dalam dokumen atau lampiran yang sesuai

4.3.3.3 Jika sistem pengendalian dokumen laboratorium membolehkan diberlakukan adanya amandemen dokumen dengan tulisan tangan, sebelum penerbitan kembali dokumen yang bersangkutan, maka prosedur dan kewenangan untuk melakukan amandemen itu harus ditetapkan. Dokumen yang telah direvisi harus secara formal diterbitkan kembali sesegera mungkin

4.3.3.4 Harus terdapat prosedur yang menjelaskan tata cara perubahan dokumen yang disimpan dalam sistemkomputer dilakukan dan dikendalikan

4.4  Kaji ulang permintaan, tender dan kontrak

4.4.1 Laboratorium harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk kaji ulang permintaan, tender dan kontrak. Kebijakan dan prosedur untuk melakukan kaji ulang yang berkaitan dengan kontrak pengujian dan/atau kalibrasi harus memastikan bahwa:

a) Persyaratan, termasuk metode yang akan digunakan, ditetapkan, didokumentasikan dan dipahami sebagaimana mestinya (lihat 5.4.2);

b) Laboratorium mempunyai kemampuan dan sumber daya untuk memenuhi persyaratan

c) Metode pengujian dan/atau kalibrasi yang sesuai dipilih dan dapat memenuhi persyaratan customer

4.4.2 Rekaman kaji ulang, termasuk setiap perubahan yang berarti, harus dipelihara. Rekaman diskusi yang berkaitan dengan seorang customer, yang berkaitan dengan persyaratan customer atau hasil pekerjaan selama periode pelaksanaan kontrak harus dipelihara

4.4.3 Kaji ulang harus juga mencakup setiap pekerjaan yang disubkontrakkan oleh laboratorium

4.4.4 Penyimpangan apapun dari kontrak harus diinformasikan kepada customer.

4.4.5 Jika suatu kontrak perlu diamandemen setelah pekerjaan mulai dilakukan, proses kaji ulang kontrak yang sama harus diulang dan setiap amandemen harus dikomunikasikan dengan semua personel yang terkait

4.5  Subkontrak pengujian dan kalibrasi

4.5.1 Apabila suatu laboratorium mensubkontrakkan pekerjaan karena keadaan yang tak terduga (misalnya beban kerja, membutuhkan keahlian yang lebih baik atau ketidakmampuan sementara) atau berdasarkan kelanjutan (misalnya melalui subkontrak permanen, agen atau pengaturan kerja sama), pekerjaan ini harus diberikan pada subkontraktor yang kompeten. Subkontraktor yang kompeten adalah, sebagai contoh yang berkesesuaian dengan Standar ini, untuk pekerjaan yang dimaksudnya.

4.5.2 Laboratorium harus memberitahu customer secara tertulis perihal pengaturan yang dilakukan dan, bila sesuai, memperoleh persetujuan yang sebaiknya tertulis dari customer

4.5.3 Laboratorium bertanggung jawab kepada customer atas pekerjaan subkontraktor, kecuali bila customer atau pihak yang berwenang menempatkan subkontraktor yang harus digunakan

4.5.4 Laboratorium harus memelihara daftar semua subkontraktor yang digunakannya untuk pengujian dan/atau kalibrasi dan rekaman dari bukti kesesuaian dengan Standar ini untuk pekerjaan yang dimaksud

4.6  Pembelian jasa dan perbekalan

4.6.1 Laboratorium harus mempunyai suatu kebijakan dan prosedur untuk memilih dan membeli jasa dan perbekalan yang penggunaannya mempengaruhi mutu pengujian dan/atau kalibrasi. Harus ada prosedur untuk pembelian, penerimaan dan penyimpanan pereaksi dan bahan habis pakai laboratorium yang relevan dengan pengujian dan kalibrasi

4.6.2 Laboratorium harus memastikan bahwa perlengkapan, pereaksi dan bahan habis pakai yang dibeli yang mempengaruhi mutu pengujian dan/atau kalibrasi tidak digunakan sebelum diinspeksi atau dengan cara lain untuk memverifikasi kesesuaiannya dengan spesifikasi standar atau persyaratan yang ditetapkan dalam metode pengujian dan/atau kalibrasi yang dimaksud. Jasa dan perlengkapan yang digunakan harus sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Rekaman dan tindakan yang dilakukan untuk mengecek kesesuaian harus dipelihara.

4.6.3 Dokumen pembelian barang-barang yang mempengaruhi mutu hasil laboratorium harus berisi data yang menjelaskan jasa dan perbekalan yang dibeli. Dokumen pembelian harus dikaji ulang dan disahkan spesifikasi teknisnya terlebih dulu sebelum diedarkan

4.6.4 Laboratorium harus mengevaluasi pemasok bahan habis pakai, perbekalan, dan jasa yang penting dan berpengaruh pada mutu pengujian dan kalibrasi, dan harus memelihara rekaman evaluasi tersebut serta membuat daftar yang disetujui

4.7  Pelayanan kepada customer

4.7.1 Laboratorium harus mengupayakan kerja sama dengan customer atau perwakilannya untuk mengklarifikasi permintaan customer dan untuk memantau unjuk kerja laboratorium sehubungan dengan pekerjaan yang dilaksanakan, dengan tetap menjaga kerahasiaan terhadap customer lainnya

4.7.2 Laboratorium harus mencari umpan balik, baik positif maupun negatif dari customer-nya. Umpan balik tersebut harus digunakan dan dianalisis untuk meningkatkan sistem manajemen, kegiatan pengujian dan kalibrasi serta pelayanan customer

4.8  Pengaduan

Laboratorium harus mempunyai kebijakan dan prosedur untuk menyelesaikan pengaduan yang diterima dari customer atau pihak-pihak lain. Rekaman semua pengaduan dan penyelidikan serta tindakan perbaikan yang dilakukan oleh laboratorium harus dipelihara

4.9  Pengendalian pekerjaan pengujian dan/atau kalibrasi yang tidak sesuai

4.9.1 Laboratrium harus mempunyai suatu kebijakan dan prosedur yang harus diterapkan bila terdapat aspek apapun dari pekerjaan pengujian dan/atau kalibrasi yang mereka lakukan, atau hasil yang diperoleh pekerjaan mereka, tidak sesuai dengan prosedur mereka, atau persyaratan customer yang telah disetujui. Kebijakan dan prosedur harus memastikan bahwa:

a) Tanggung jawab dan kewenangan untuk pengelolaan pekerjaan yang tidak sesuai ditentukan dan tindakan (termasukmenghentikan pekerjaan dan menahan laporan pengujian dan sertifikat kalibrasi sebagaimana yang diperlukan) ditetapkan dan dilaksanakan bila ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai;

b) Evaluasi dilakukan terhadap signikansi ketidaksesuain pekerjaan

c) Perbaikan segera dilakukan bersamaan dengan keputusan penerimaan pekerjaan yang ditolak atau yang tidak sesuai

d) Bila diperlukan, customer diberitahu dan pekerjaan dibatalkan

e) Tanggung jawab untuk menyetujui dilanjutkannya kembali pekerjaan harus ditetapkan

4.9.2 Bila evaluasi menunjukkan bahwa pekerjaan yang tidak sesuai dapat terjadi kembali, atau adanya keraguan pada keseuaian kegiatan laboratorium dengan kebijakan dan prosedur, prosedur tindakan perbaikan pada 4.11 harus segera diikuti

4.10     Peningkatan

Laboratorium harus meningkatkan efektivitas sistem manajemen secara berkelanjutan melalui penggunaan kebijakan mutu, sasaran mutu, hasil audit, analisis data, tindakan perbaikan dan pencegahan serta kaji ulang manajemen.

4.11     Tindakan Perbaikan

4.11.1 Umum

Laboratorium harus menetapkan kebijakan dan prosedur serta harus memberikan kewenangan yang sesuai untuk melakukan tindakan perbaikan bila pekerjaan yang tidak sesuai atau penyimpangan kebijakan dan prosedur di dalam sistem manajemen atau pelaksanaan teknis telah diindentifikasi

4.11.2 Analisis penyebab

Prosedur tindakan perbaikan harus dimulai dengan suatu penyelidikan untuk menentukan akar penyebab permasalahan

4.11.3 Pemilihan dan pelaksanaan tindakan perbaikan

Laboratorium harus memilih dan melakukan tindakan perbaikan paling memungkinkan untuk meniadakan masalah dan mencegah terjadinya kembali. Tindakan perbaikan harus dilakukan sampai tingkat yang sesuai dengan besar dan resiko masalah. Laboratorium harus mendokumentasikan dan menerapkan setiap perubahan yang diperlukan sebagai hasil dari penyelidikan tindakan perbaikan.

4.11.4 Pemantauan tindakan perbaikan

Laboratorium harus memantau hasil untuk memastikan bahwa tindakan perbaikan yang dilakukan telah efektif.

4.11.5 Audit tambahan

Apabila identifikasi dari ketidaksesuaian atau penyimpangan menimbulkan keraguan pada kesesuaian laboratorium dengan kebijakan dan prosedur mereka, atau pada kesesuaian dengan standar ini, laboratorium harus memastikan bahwa bidang kegiatan yang terkait harus segera diaudit sesuai dengan 4.14.

4.12          Tindakan pencegahan

4.12.1 Peningkatan yang dibutuhkan, baik teknis maupun berkaitan dengan sistem manajemen, harus diidentifikasi.

4.12.2 Prosedur untuk tindakan pencegahan harus mecakup tahap awal tindakan dan penerapan pengendalian untuk memastikan efektivitasnya

4.13     Pengendalian rekaman

4.13.1 Umum

4.13.1.1 Laboratorium harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk identifikasi, pengumpulan, pemberian indek, pengaksesan, pengarsipan, penyimpanan, pemeliharaan dan pemusnahan rekaman mutu dan rekaman teknis.

4.13.1.2 Semua rekaman harus dapat dibaca dan harus disimpan dan dipelihara sedemikian rupa sehingga mudah didapat bila diperlukan dalam fasilitas yang memberikan lingkungan yang sesuai untuk mencegah terjadinya kerusakan atau deteriorasi dan untuk mencegah agar tidak hilang. Waktu penyimpanan rekaman harus ditetapkan.

4.13.1.3 Semua rekaman harus terjaga keamanan dan kerahasiaannya.

4.13.1.4 Laboratorium harus mempunyai prosedur untuk melindungi dan membuat cadangan rekaman yang disimpan secara elektronik dan untuk mencegah akses dan amandemen yang tidak berwenang terhadap rekaman-rekaman tersebut

4.13.2 Rekaman Teknis

4.13.2.1Laboratorium harus menyimpan untuk suatu periode tertentu rekaman pengamatan asli, data yang diperoleh dan informasi yang cukup untuk menetapkan suatu jejak audit, rekaman kalibrasi, rekaman staf dan salinan dari setiap laporan pengujian atau sertifikat kalibrasi yang telah diterbitkan. Rekaman-rekaman tersebut harusmencakup identitas personel yang bertanggung jawab untuk pengambilan sampel, pelaksanaan setiap pengujian dan/atau kalibrasi dan pengecekan hasil.

4.13.2.2 Pengamatan, data dan perhitungan harus direkam pada saat pekerjaan dilaksanakan dan harus diidentifikasi pekerjaan asalnya.

4.13.2.3 Bila terjadi kesalahan dalam rekaman, setiap kesalahan harus dicoret, tidak dihapus, dibuat tidak kelihatan atau dihilangkan, dan nilai yang benar ditambahkan disisinya. Bagi rekaman yang disimpan secara elektronis, tindakan yang sepadan harus dilakukan untuk mencegah hilang atau berubahnya data asli.

4.14     Audit Internal

4.14.1 Laboratorium harus secara periodik, dan sesuai dengan jadwal serta prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya, menyelenggarakan audit internal untuk memverifikasi kegiatan berlanjut sesuai dengan persyaratan sistem manajemen dan Standar Internasional ini.

4.14.2 Bila temuan audit menimbulkan keraguan pada efektivitas kegiatan atau pada kebenaran atau keabsahan hasil pengujian atau kalibrasi, laboratorium harus melakukan tindakan perbaikan pada waktunya, dan harus memberitahu customer secara tertulis bila penyelidikan memperlihatkan hasil laboratorium mungkin telah terpengaruh

4.14.3 Bidang kegiatan yang diaudit, temuan audit dan tindakan perbaikan yang dilakukan harus direkam

4.14.4 Tindak lanjut kegiatan audit harus memverifikasi dan merekam penerapan dan efektivitas dari tindakan perbaikan yang telah dilakukan.

4.15     Kaji Ulang Manajemen

4.15.1 Sesuai dengan jadwal dan prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya, manajemen puncak laboratorium harus secara periodik menyelenggarakan kaji ulang pada sistem manajemen laboratorium dan kegiatan pengujian dan/atau kalibrasi yang dilakukannya untuk memastikan kesinambungan kecocokan dan efektivitasnya, dan untuk mengetahui perubahan atau peningkatan yang diperlukan. Kaji ulang harus memperhitungkan:

  1. Kecocokan kebijakan dan prosedur
  2. laporan dari staf manajerial dan personel penyelia
  3. hasil dari audit internal yang terakhir
  4. tindakan perbaikan dan pencegahan
  5. asesmen oleh badan eksternal
  6. hasil dari uji banding antar laboratorium dan uji profisiensi
  7. perubahan volume dan jenis perkerjaan
  8. umpan balik customer
  9. Pengaduan
  10. rekomendasi tentang peningkatan
  11. faktor-faktor relevan lainnya, seperti kegiatan pengendalian mutu, sumber daya, dan pelatihan staf

4.15.2 Temuan kaji ulang manajemen dan tindakan yang dilakukan harus direkam. Manajemen harus memastikan tindakan tersebut dilaksanakan dalam jangka waktu yang sesuai dan disepakati.

REFERENSI

Prayitno, Caribu Hadi . 2006 . Dokumen Sistem Manajemen Mutu ISO/IEC 17025:2005. Purwokerto : UPT. Pemberdayaan Fasilitas UNSOED

SNI/ISO/IEC 17025 . 2008 . Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium Kalibrasi. Jakarta : Badan Standardisasi Nasional

Jawaban Pre-Test Praktikum Fisika Dasar 1 “KALORIMETER”

Jawaban Pre-Test Praktikum Fisika Dasar 1 “KALORIMETER”

Kartiko Nugroho (M0312034)

Asisten : Qudratun (http://dream-qudrotundreamer.blogspot.com/)

  1. Prinsip kerja kalorimeter yaitu: arus listrik yang dialirkan kedalam kalorimeter dari catu daya melalui kabel penghantar, masuk melewati kumparan, pada saat arus listrik melewati kumparan terdapat daya disipasi yang berupa panas, panas yang dihasilkan akan menaikkan suhu air didalam kalorimeter. Kenaikan suhu selama selang waktu t diukur dengan temometer.
  2. Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu dari 1 kg zat sebesar 1 derajat celcius.
  3. Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda sebesar 1 derajat celcius.
  4. Hukum yang digunakan pada Kalorimeter antara lain: Hukum Kekekalan Energi, Hukum Kekekalan Kalor (Asas Black), Hukum Kirchoff 1, Hukum Termodinamika.
  5. Aplikasi Kalorimeter dalam kehidupan sehari-hari : Termos Air, Setrika, Pemanas Ruangan, kompor listrik, Teko listrik (Dispenser), dan Magic Jar.
  6. Inovasi yang bisa dikembangkan dari Prinsip Kalorimeter adalah Alat untuk Sterilisasi instrumen, dimana alat tersebut akan memanaskan instrumen yang akan disterilisasi menggunakan kalor yang dihasilkan Kalorimeter.